Langsung ke konten utama

Postingan

52 MR: 5. Long Week

Minggu ini begitu menyita energi. Saya kebagian poli interna, yang kalau poli itu pasiennya mbudal budal, kalau visite yang cuma nulis status dan keliling kilatnya aja bisa 1.5-2jam.. Belum lagi kalau dokternya nanya dan banyak ngobrol.  Saya nanya kepada teman-teman saya yang sudah lewat interna.. Apakah mereka selama visite dan atau poli ditanya-tanya? Beberapa menjawab iya, beberapa tidak, dan lebih parahnya... sejauh ini ternyata cuman saya yang ditanya hal random..dengan jawaban random.. Macam tentang racun tikus dan mengapa metanol itu mematikan sementara etanol tidak. Dengan entengnya beliau menjawab, "karena minum2an seperti itu diharamkan" ketika saya sudah berfikir keras apa jawaban terbaik untuk disampaikan.  Selain itu, minggu ini kebagian jaga 2 kali..  Jaga terakhir sih masih bisa nafas..  Jaga pertama hari senin yang biasanya beres poli visite jam ashar, dilanjut selasa yang juga sama waktu beresnya..  Disaat orang2 lain jam 11.30 uda...

52 MR: 4. Aku dan Ketidakpercayadirianku

Bismillaah Berhasil nulis sesuai jadwal :) Seminggu kemarin saya kebagian di poli bedah.  Poli yang saya hindari setelah poli interna karena pulangnya suka lama ec pasiennya banyak. Belum kalau ruangan, bedah harus bikin s.o.a.p pasien.  Dan 2 dari dokter spesialis bedah di RS isip ku ini konsultan..  Ya.. Padahal RS kecil tipe c yang masih pembangunan, yang ruang ok nya cuma 1, yang spesialis lain mah cuma 2 bahkan sesibuk penyakit dalam pun cuma 1. Dua konsultan yang aku hindari..  Tapi justru pada akhirnya..  Aku malah kena untuk bikin lapsus sama beliau ec kebodohanku. Aku yang 6 bulan gak review2 materi kedokteran, ketemu pasien, berbahasa jawa, dengan centre pengobatan yang berbeda, dan ditambah aku gak begitu suka bagiannya, lalu kamu takut sama spesialisnya karena isu2 yang beredar..  Yah makinlah kekhawatiran yang tidak pada tempatnya menjadi-jadi.. Ditanya.. Gak bisa jawab..  Senyum-senyum aja bisanya..  Nulis s.o.a.p .. Lup...

52 MR: 3. Rasa

Lagi-lagi minggu kemarin saya skip nulis jadinya sekarang saya akan rapel cerita 2 minggu kemarin.  Minggu pertama saya kebagian jatah off. Jadilah saya keliling-keliling dan lebih banyak diem di kosan juga sih.  Minggu berikutnya saya kebagian di poli neuro, dan dokternya baik pake banget sih!  Dua minggu ini saya masih kualahan untuk adaptasi. Baik adaptasi lingkungan kerja, lingkungan pertemanan, bahasa, dan juga makanan. Semuanya masih kejawabaratan.  Sesulit itukah meninggalkan Bandung?  Ya! Kata Ayah juga kan Bandung bukan hanya masalah geografis, lebih dari itu, melibatkan perasaan..  Disini saya masih melakukan semuanya sendirian. Ketika minggu off itu, saya dikirimin kuda besi tercinta dan dialah yang menemani saya kemana-kemana, yang ngerti banget kemana saya mau pergi. Tanpa dia, saya pasti lebih asosial.  Cari makan, sendiri. Googling cari tempat makan enak murah meriah dan yang jelas bisa diterima di lidah dan perut ...

52 MR: 2. Berangkatlah Kamu..

Untuk selanjutnyaa Mojokerto saya singkat MR (sesuai dengan kode stasiun mojokerto di KAI)  Tepat empat jam sebelum berangkat. Izrail bertamu ke rumah, menjemput nenek. Saya menyaksikan sendiri proses sakaratul maut itu. Masih terekam dalam memori saya dengan baik. Dan saya yang memastikan sendiri bahwa ruh sudah terlepas dari jasadnya, pupilnya sudah dilatasi maksimal.  Kakak saya meminta agar saya menunda keberangkatan ke MR. Tapi bapak dan ibu tetap mengijinkan saya untuk berangkat sesuai jadwal. Yang saya khawatirkan adalah kondisi Ibu, karena harus melakukan penguburan di Garut (kampung nenek saya)  tanpa bapak saya, karena harus mengantar putri sulungnya ini merantau.  Iya, hari itu cukup menjadi pengingat bahwa Izrail tidak mengenal waktu dan tempat untuk bertamu.  Tidak peduli tuan rumah punya agenda apa hari itu.  Dan qadarullah, saya masih bisa melihat nenek saya untuk terakhir kalinya, walaupun saya tahu nenek saya saat itu sudah...

52 Mojokerto: 1. Prolog

Padahal, cuma mau berangkat internship, selama kurleb 52 minggu, dengan jarak kurleb 520 km dari Bandungku tercinta, tapi deg2an.  Kalau ditanya, apa yang membuatmu khawatir, saya punya banyak jawaban. Bahkan ketika saya belum berangkat, saya sudah memikirkan kapan saya pulang, bagaimana saya pulang, apa yang akan saya lakukan saat pulang. (Belum punya mental rantau) (rantau for the first time) (padahal gak nyebrang pulau juga)  Saya masih sangat mencoba untuk peka, menangkap apa maksud Allah dalam takdir saya di Mojokerto.  Memangnya saya akan bertemu siapa? Memangnya apa yang akan terjadi?  Memangnya apa yang akan saya lakukan?  Dan memang memang lainnya...  Yang kemudian salah satu yang saya takutkan adalah..  Menjaga diri saya sendiri untuk tetap dalam kebenaran, bersama. Tarbiyah dzatiyah, begitulah kalimatnya tema mentoring wada waktu saya kuliah dulu. Siapa lagi kalau bukan diri kita yang menjaga keimanan?  Sulit?  B...

Sembilan Minggu terakhir: Bersiap

Ditulis 2 setengah bulan setelah saya bilang: my koas life officially end! Kata orang, "gak kerasa ya Had," tapi bagi saya kerasa banget. Stase penutup kehidupan koas saya adalah stase anak. Hamdalah, ditutup dengan baik. Banyak banyak banyak banget yang ingin dishare, tapi saya gak sanggup buat nulis itu (lagi). Stase yang seharusnya sembilan minggu ini kena korting seminggu karena tuntutan ujian, ramadhan, dan waktu-waktu lain. Stase yang dulu saya mau memperpanjang pengalamannya karena sempat terpikir mau jadi spesialis anak, tapi gak mau jadi residennya. (gimana caranya coba). Stase pelipur lara karena kami banyak main dengan pasien-pasien anak yang lucu dan menggemaskan, melihat anak-anak yang sudah merasakan arti berjuang sedari dini untuk menghadpi penyakitnya.  Stase yang amat melelahkan bagi saya. Karena saya lagi-lagi dituntut untuk melakukan banyak hal. Stase anak saya bertepatan dengan bulan Ramadhan. Stase anak ini menjadi kambing hitam ketida...

Sembilan Minggu ketujuh: Pelajaran Kehidupan

Ahlan wa sahlan Imtihan! Marhaban Ya Ramadhan! Saya deg-degan nulis judulnya. Sudah tujuh kali sembilan minggu saya bernafas sebagai koas, berarti 9 minggu lagi saya mengakhiri ini! Yang artinya, 12 minggu lagi saya diuji kemampuan saya, layak atau tidak menjadi dokter. Kan, gimana gak tegang. Katanya sih lebih tegang dari snmptn. Sejujurnya.. saya belum siap ukmppd. Fake prolognya, “ahlan wa sahlan.” Sembilan minggu ketujuh saya kepaniteraan di bagian: jiwa, forensik, dan saraf, masing-masingnya tiga minggu. Tiga stase yang banyak banget pelajaran hidup dan kehidupannya, apalagi forensik. Emang, gimana? Di sembilan minggu ketujuh ini, saya rotasi bareng kelompok sebelah yang sejujurnya saya gak deket sama mereka. Tapi keadaan memaksa saya 2x3 minggu merasakan atmosfir mereka. Dan ternyata, not bad . Dengan bumbu-bumbu dan cita rasa masing-masing personal serta budaya kelompok, saya jadi tahu bahwa sesungguhnya setiap orang itu adalah pribadi yang unik dan menyenangkan. Wa...