Langsung ke konten utama

Postingan

H-5 E1 HIS

Yang tidak dinanti akan segera datang 5 hari lagi. Di hari pertemuan terakhir tadi, kami memutuskan untuk botram makan siang. Hari Rabu kami sudah sangat excited membagi-bagi bawaan makanan, tidak seperti membagi-bagi LI (haha yaiyalah .___.). Kamal bawa nasi goreng, dila sama rani bawa ayam, shira bawa soda, netia bawa brownies, nur dan tendy bawa buah, dika sama atika bawa es buah wiscar, vinod bawa molen, hong yi sama jeremy yang harusnya bawa peralatan makan malah ga bawa :|. Untungnya shira dan kamal inisiatif membawa gelas dan box serta kertas nasi. Karena Hadi satu-satunya diantara teman-teman E1 lain yang tinggal di rumah, jadi kebagian bawa masakan rumah: capcay! Anak kosan rantau mana coba yang gak kangen sama masakan ibunya sendiri? Semoga jadi penghibur lara di kala so*ca datang namun makanan di jatinangor tak kunjung berubah. Anggap saja capcay masakan dari Ibu hadi ini adalah dari Ibu teman-teman juga. kebiasaan orang Indonesia: foto makanannya dulu. Woles lah yang pe...

H-7

Banyak hal yang tidak bisa ditangkap oleh panca indra manusia yang serba terbatas diciptakan. Hal-hal yang diluar keterbatasannya akan sulit diterima oleh logika berfikirnya. Kita mengenal istilah delusi, halusinasi, sampai gila berkenaan dengan hal ini. Apa yang membuat manusia bisa melihat, mendengar, merasa, diluar batasnya adalah kepercayaan. Islam mengajarkan iman kepada hal-hal yang ghaib, hal-hal yang tidak bisa disentuh oleh ruang manusia. Allah, malaikat, surga dan neraka, sampai bisyarah rasul.  Gelar ash-shidiq yang disematkan pada nama Abu Bakar ra adalah karena "kemampuan" ini. Isra Mi'raj bukanlah hal yang mampu dinalar oleh keterbatasan manusia. Maka wajar bila gelar Rasul dari Al-Amin berubah jadi Al-majnun. Kalau saya bilang saya tadi baru terbang ke langit ke tujuh, itu baru waham (perlu digaris bawahi juga kepercayaanny). Oleh karenanya, menerima Islam tidak hanya bisa dengan logika. Ia diterima pada mereka yang mau berfikir. Berfikir dan membu...

Risk

"Yaudah sih jalanin aja~" Saya ga bisa jalanin begitu aja. Banyak terlintas hal-hal macam tujuan, pertimbangan, manfaat, risiko, dll. Gamau menjalankan yang sia-sia. gamau menjalankan apa yang saya tidak mau. Walau pada akhirnya terjebak lagi dengan kalimat itu. Setidaknya menjalani lebih baik daripada lari dari kenyataan harus menghadapinya. Face it, hadi ! "Yaudah sih, jalanin aja~" Yaudah deh jalanin aja. Jalanin aja pilihan-pilihan hidup itu, artinya jalanin juga risiko atas pilihan itu. Toh esensi memilih adalah meninggalkan. |With great choices come great investment, consequence, and risk| sulit ya jadi manusia indecisive hidup di dalam dunia yang banyak opsi.

Ada Bagaimana Menjaga Diri

Ada salah satu drama medical yang bikin saya merasa jadi semakin melankolis, sebut saja Code Blue. Di season dua, tiap awal episode ada pertanyaan yang nanti di akhirnya ada jawaban yang related to case di tiap episodenya. Bukan pertanyaan mirip mde, tapi mungkin lebih pertanyaan bhp, atau mungkin pertanyaan seputar perasaan dan pemikiran. Yang oh ternyata, ada beberapa pertanyaan yang sama dengan apa yang saya pikirkan setelah hampir 2 tahun hidup di hutan, sebut saja fk. Ada satu episode, ketika salah satu dari dokter lakon diminta untuk memberikan penjelasan kepada ibu pasien bahwa si pasien itu sebenarnya sudah dalam keadaan mati otak. Ibu pasien pada awalnya menolak untuk menandatangani consent DNR . Tapi setelah beberapa waktu (mungkin) setelah diberi penjelasan, si dokter merasa sudah sama perasaan anatara dia dan si ibu bahwa pasien memang sudah mati dan tanpa tandatangan si ibu, dilepaslah semua alat bantu pasien. Eh, si keluarga pasien yang lain ada yang menuntut tind...

Kata seorang

" Iya, banyak yang harus dikerjain. Iya, sibuk. Iya, banyak yang harus dipikirkan. Mikirinnya aja udah cape. Iya, sekarang sekolah pre klinik jadi cuma 3 tahun. Kebayang tahun ajaran depan capenya kaya gimana? masih harus ngerjain LI, masih harus mikirin sooca, masih terlibat organisasi, dan harus menyusun skripsi. Terus banyak capaian yang masih jauh untuk tercapai. Belum lagi ngurusin ratusan orang yang ketika urusan sendiri belum selesai dan yang diurus ga rumasa. Semuanya iya. Tapi bukan berarti harus curhat saya ga mampu kan?" Katanya, waktu saya bertanya, " Bagaimana meningkatkan skill expressive langunge ?" ga nyambung banget. Tapi, setidaknya saya menangkap maksudnya: Itu bukan skill, tapi keinginan. Walau saya keukeuh bilang: itu pasti kemampuan! Terus dia bilang, "Lo mau ga? Keureuyeuh weh. Iya sih harus dipikirkan. Tapi sambil di keureuyeuh ." Di- keureuyeuh ya? hmhmhmhmhm.

Mencari Definisi

Huaa, sudah lama juga rupanya ini blog ke-anggur-an teranggurkan terdiamkan ngelapuk. Seperti atap kamar yang berjamur karena lembap, kehujanan, yang dengan itu, Allah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kemudian manusia manfaatkan. Cape. Salah satu alasan kenapa ini blog bisa sampai sebulan kelupaan. Dan sedihnya, cape ga puguh. Salah sendiri sih, karena ga fokus. Sampai pada pertanyaan, kenapa harus fokus? Jawaban saya, karena manusia ga bisa jadi semuanya. Akhirnya, saya sudah putuskan, ranah mana yang akan saya fokuskan. Tetap aja, ada ini-itu, rutinitas yang memang ga bisa dilewatkan, yang hobi banget bikin saya jadi ga fokus.  Sampai sebel dan kesel sendiri. Sampai baru sekarang kepikiran, sekali aja bolos kuliah. ga deng, kepikiran kenapa ada orang yang kepikiran mau bolos kuliah. dan kerasa banget, orang yang ga fokus gak akan dapetin apa-apa. Dan sampai pada pernyataan, fokus aja ga cukup. butuh teman untuk ngelakuinnya. Ya, kalau dibilang amal jama'i, ...

Verbal

Apa ya? Saya menemukan suatu kesalahan dalam pikiran saya, tapi menurut pemikiran saya. Saya tipikal yang tidak bisa mengomunikasikan sesuatu secara lisan dengan baik. Ada saja yang terjadi, seperti rajin mengulang kata-kata yang sama, atau saya tidak bisa menyampaikan maksud dengan baik. Saya memutuskan dan saya lebih condong untuk menuliskannya. Menuliskan apa saja yang banyaknya saya tak bisa verbalkan lewat lisan. Dengan ditulis, sesuatu ide menjadi lebih awet. Saya mencoba berkata lewat tulisan. Membiasakan menulis hal dari yang penting sampai tidak, dari yang dimaksud atau tidak, dari yang ditujukan sampai kepada tujuan atau tidak, saya mencoba memverbalkan apa yang saya lihat, dengar, rasa, pikir lewat tulisan. Ketika ingin mencapai sesuatu, sudah mepet ke deadline, dan sudah berkeliaran semua dikepala tentangnya, saya malah bingung. Ada bagian yang tidak bisa ditulis. Setelah tidak bisa diucap, kemudian tidak bisa ditulis, lalu apa yang harus saya lakukan untuk men...