Langsung ke konten utama

Postingan

Jeda

Mereka bilang, jeda itu harus ada agar sebuah tulisan bisa dibaca. Jeda itu bernama spasi. *** Namanya Ramadhan, dan dia sudah pergi. Pergi, dan kemudian akan datang lagi. Hanya saja, tak tahu akan jumpa atau tidak. Pada awalnya, riang tak terkira. Kehadirannya amat kutunggu. Sebagai sebuah momen berharga dan limpahan rahmat dari Yang Maha Penyayang. Iya, tapi itu pada awalnya. Hanya pada awalnya, hingga tengahnya. Pada akhirnya, aku menyerah. Ada satu titik kehidupan, mungkin jenuh, mungkin lelah. Ada di fase "kenapa harus saya?" Ketika bahkan diri sendiri aja ga bener dan bahkan ga bisa memperbaikinya, tapi saya harus mengurus orang lain, yang bahkan orang itu ga sadar dirinya diurusin. Lalu sadar, kalau titik itu bukan jenuh bukan lelah. Tapi, lupa kalau dirinya hanya manusia yang cuma hamba Tuhan.  Fase itu membuat jeda di kehidupan. Ketika aku memilih untuk memutuskan semua ikatannya, ada satu ikatan yang tidak bisa lepas begitu saja. Men...

the last

Ini bukan cerita tentang film nya naruto yang terakhir. Yang naruto nya kelihatan gagah dan sasuke nya cuma muncul selewat. Dan ga penting. The last adalah tentang ujian sooca terakhir si gue di nangor, yak. Last sooca in nangor, really last. Walaupun sooca ga akan pernah berakhir dengan berbagai macam bentuknya.  Ujian ini gak akan pernah kalah pamor dengan ujian lainnya, selalu jadi trending topic tiap uas. Sebelum, sedang, dan sesudah. Dengan segala macam kepanikan stress dan bumbu - bumbu ketegangan lainnya. Dan ujian ini selalu bikin si gue kapok dan akan bilang, "ini sooca tertidaksiapku," sebelumnya dan sesudahnya, "sooca sistem depan ga akan kayak gini lagi. Habis case mau langsung ngedraft, terus ga akan lepas case." You know what happen in next 6  months. Ucapan yang sama yang menandakan tiada perubahan. Tidak patut ditiru ya. Begitupun sooca hari ini. Sooca terakhir di nangor dengan amat menyesal tidak ditutup dengan baik, tapi dengan...

Cara

"Banyak jalan menuju roma" Iya banyak. "Untuk mendapat angka 10, tidak harus 5+5, bisa 7+3, atau 30÷3" Iya betul. Terlalu banyak cara untuk mencapai sesuatu. Selama tujuannya sama, cara apapun tidak masalah. Apakah variabilitas itu dibenarkan? Hal ini dahulu pernah terbersit saat saya masih jadi bagian kepengurusan di himpunan. Tentang bagaimana cara orang-orang beraktivitas di kampus. "Tidak jadi masalah kan, selama tujuan kita sama, membawa nama baik fk unpad," Hmmm Saya sepakat. Tapi mungkin, tidak semuanya begitu Ada beberapa hal yang tidak bisa memilih cara. Hanya satu cara yang dibenarkan sehingga yang lainnya salah walaupun tujuan atau titik berangkatnya sama. Apalagi muslim punya Rasulullah, contoh langsung dari Allah. Jadi, variabilitas cara, dibenarkan? Atau tergantung konteksnya? Mungkin ya, mungkin. Dibenarkan kalau polanya sama apapun caranya, apapun konteksnya. Wallahu a'lam.

Jujur

Baru banget beres ngerjain tugas essay yang deadlinenya nanti jam 12. Tadinya saya ingin dengan sepenuh hati mengerjakan tugas tersebut. Ingin menulis banyak dan baik tentang tema yang sudah ditentukan: kejujuran. Salahkah saya ingin mengerjakannya dengan sepenuh hati dan dengan baik seperti halnya mengerjakan "draf soka" dan proposal skripsi? Karena ini tentang kejujuran, maka sejujurnya saya kesal pake tambah tambah. Bukan hanya saya, hampir semua teman-teman merasa rasa hal yang sama. Kesal pake tambah tambah. Tugas ekstramural yang diminta adalah membuat essay 4 halaman penuh folio dan video wawancara di jalan tertentu tentang kejujuran, ini macam tugas anak skala sd smp. Bukan bentuk tugasnya yang essay atau videonya, tapi temanya yang seolah-olah menunjukkan bahwa kita sebagai mahasiswa tingkat akhir ga ada beda pengetahuan dan tindakannya dengan anak sd smp, dan tugasnya itu sendiri yang deadline nya deket deketan dengan jadwal ujian dan submit proposal. Ada skri...

😊 folgen sie gesegnet 😊

Ini bermula dihari seseorang bercerita, "hadi, hadi, tau ga?" Tanpa kau tanya pun seharusnya kau tahu bahwa aku tidak tahu, karena dia belum bercerita perkaranya. Dengan seksama aku mendengar. Dan itu menggelitik. Awalnya aku tidak peduli. Sampai waktu dihari lain, ketika aku membuka beranda medsosku, aku melihat sesuatu yang jarang muncul. Membuat jari jari ini tidak berhenti untuk menyentuh tiap link yang bertautan. Hingga terjawablah semua mula ketidaktahuanku. Menjadikanku iri, setidaknya aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku pun ikut senang saat mereka bahagia. *** Itulah mengapa kumohon, bahagia yang sangat itu sesederhana melihat kalian yang berbahagia. Tulus dari hati tanpa pamrih ingin ucapan selamat. Tak peduli kau masih ingat bahwa aku temanmu atau bukan, tapi seumur hidup ini aku bersyukur kita pernah bersapa walau hanya sekali. Bahwa aku temanmu atau bukan, tapi setidaknya kau sangat berkesan saat singgah dalam sebagian detik waktuku. Sehingga aku punya a...

Pensiun

Ada suatu saat ketika saya melihat diri saya dalam wujud orang lain. Tapi itu dulu, diri yang dulu. Dahulu saya begitu. Jika itu hebat, apa hebatnya bila sekarang saya tidak seperti dulu. Itu kan dulu yang hebat, bukan sekarang yang hebat. Jika itu biasa saja, apa hebatnya pula bila sekarang berbeda? Bukan itu. Titik awitan pemikiran ini sudah sejak lama. Ketika orang bilang bahwa tidak ada yang pasti, semua akan berubah. Yang pasti adalah perubahan itu sendiri. Titik pertanyaan saya adalah, apa yang membuat saya berubah? Apa yang membuat saya melakukan hal itu dan sekarang tidak? Apa yang membuat saya melakukannya sekarang sementara dahulu tidak? Apakah itu karena dasar suka dan tidak suka? Sejak saya tahu bahwa pemandangan yang saya lihat sekarang, rupanya dahulu tidak seperti itu. "Dulu beliau tidak seperti itu loh, Had. Semenjak disini dia jadi begitu." Mendengar itu saya sedikit tidak percaya. Apalagi yang berkata. Karena dia tahu dahulu seperti apa, ...

Takut Membaca

"Saya sudah semester 6" Dan itu adalah keajaiban bagi saya. Sekarang saya menjadi bagian angkatan yang paling tua. Sekarang rupanya sudah masuk 6 bulan terakhir saya akan menghirup udara jatinangor. Dan sekarang saya sedang dalam menyusun proposal. Skripsi namanya. Itu ajaib. Karena saya masih denial. Saya tidak (mau) percaya dengan yang saya alami, saking terlalu cepatnya saya  berjalan melalui setiap prosesnya. Cepat sekali, dan saya tidak mau. Tidak mau, karena hati dan pikiran saya menyadari, tentang masih sangat kurangnya bekal untuk melaju ke tahap selanjutnya. Jadi dokter kah, untuk kehidupan dunia akhirat kah, tidak, bahkan untuk esok hari pun, saya selalu merasa dalam ketidaksiapan dengan bekal segini adanya! Kekurangan bekal untuk segala macam kemungkinan masa depan itu saya berusaha tutupi dengan mulai banyak membaca dan membaca. Dan itu masih berusaha. Menyadari betapa banyak kurangnya saya untuk bisa survive di kehidupan nyata dan maya du...