Langsung ke konten utama

Postingan

Pensiun

Ada suatu saat ketika saya melihat diri saya dalam wujud orang lain. Tapi itu dulu, diri yang dulu. Dahulu saya begitu. Jika itu hebat, apa hebatnya bila sekarang saya tidak seperti dulu. Itu kan dulu yang hebat, bukan sekarang yang hebat. Jika itu biasa saja, apa hebatnya pula bila sekarang berbeda? Bukan itu. Titik awitan pemikiran ini sudah sejak lama. Ketika orang bilang bahwa tidak ada yang pasti, semua akan berubah. Yang pasti adalah perubahan itu sendiri. Titik pertanyaan saya adalah, apa yang membuat saya berubah? Apa yang membuat saya melakukan hal itu dan sekarang tidak? Apa yang membuat saya melakukannya sekarang sementara dahulu tidak? Apakah itu karena dasar suka dan tidak suka? Sejak saya tahu bahwa pemandangan yang saya lihat sekarang, rupanya dahulu tidak seperti itu. "Dulu beliau tidak seperti itu loh, Had. Semenjak disini dia jadi begitu." Mendengar itu saya sedikit tidak percaya. Apalagi yang berkata. Karena dia tahu dahulu seperti apa, ...

Takut Membaca

"Saya sudah semester 6" Dan itu adalah keajaiban bagi saya. Sekarang saya menjadi bagian angkatan yang paling tua. Sekarang rupanya sudah masuk 6 bulan terakhir saya akan menghirup udara jatinangor. Dan sekarang saya sedang dalam menyusun proposal. Skripsi namanya. Itu ajaib. Karena saya masih denial. Saya tidak (mau) percaya dengan yang saya alami, saking terlalu cepatnya saya  berjalan melalui setiap prosesnya. Cepat sekali, dan saya tidak mau. Tidak mau, karena hati dan pikiran saya menyadari, tentang masih sangat kurangnya bekal untuk melaju ke tahap selanjutnya. Jadi dokter kah, untuk kehidupan dunia akhirat kah, tidak, bahkan untuk esok hari pun, saya selalu merasa dalam ketidaksiapan dengan bekal segini adanya! Kekurangan bekal untuk segala macam kemungkinan masa depan itu saya berusaha tutupi dengan mulai banyak membaca dan membaca. Dan itu masih berusaha. Menyadari betapa banyak kurangnya saya untuk bisa survive di kehidupan nyata dan maya du...

The Sixth S

Akhirnya hari itu pun sudah terlewati, dan tinggal dua kali S lagi setidaknya kami lega bahwa kami sudah berhasil hidup bertahan di hutan :') .lebay. Belum tau aja dalamnya samudra Hindia dan Pasifik yang kemudian harus kami lewati, tekanannya tinggi banget. S keenam ini keliahatan banget begonya saya didepan dokter penguji. Ya gimana engga, kalau alhamdulillah saya dapet case yang saya lepas. Terharu pake banget sambil dalam hatinya meringis menangis.  Awalnya udah punya feeling bakal dapet case itu karena dari pengalaman S ke 2 hingga S ke 5 saya selalu dapat case 1 atau 4 sistem pertama di semester tsb. Jika memang begitu semsester depan saya belajar GIS aja #eh. Dan beneran aja pas buka soal yang saya cari pertama adalah tulisan Diagnosis. Allah, saya dapat case ini, case yang engkau tahu bahwa hamba benar-benar memasrahkannya pada Mu.  Panik banget saya gatau saya mau story telling apa nanti dihadapan dokter pengujinya. bahkan saya gatau harus nulis...

Hari Yang Kutakutkan

Dan hari yang kutakutkan pun tiba. Hari dimana ketika itu aku sedang tidak lagi bersamamu dan bersama kita . Tidak seperti saat jari jemari diam dalam geraknya, khusyu’ menundukkan qalbu, merasa lemah dan hina mendengar tiap kalimat yang selalu tertuju pada manusia. Akulah, Kamilah orangnya yang tersangka. Tidak seperti saat mulut kita tersenyum dan tertawa, mata yang sayu namun teduh dengan ingin kita yang lebih dari sekedar harapan dan wacana, menghimpun dalam naungan yang dengan izinNya jauh dari mimpi dan realita yang fana. Tidak lagi menghitung tetes keringat atau butir beras yang  dimakan pun lembaran mata uang. Berhasil mendidihkan semangat-semangat yang mengalir di urat darah seperti lagu mentari. Dan hari yang kutakutkan pun tiba. Hari dimana ketika itu aku sedang tidak lagi bersamamu dan bersama kita . Hari ketika buah kelapa terbawa oleh ombak. Kaki ini sudah melangkah, mata sudah menatap, dan tangan sudah mengayun. Diiringi gemericik dan melodi kehidupan yang m...

menjadi Rabbani

Bismillah Bulan-bulan seperti ini dimana sedang masanya regenerasi (dan ujian). Saya ingat sekali rasa dan pikiran sekitar satu tahun yang lalu, ketika ego membuncah dan perjalanan panjang membuat saya lelah perasaan, dibayang-bayangi gemerlap kehidupan, Allah memberikan resistensi level baru dalam kehidupan saya. Saya bukan anak pembinaan dan kaderisasi, apalagi seorang dalam struktural tinggi, saya hanya seorang staff yang apa atuh , sukanya hilang-hilangan tapi masih ingin diaku. Jadi, saya merasa tidak layak untuk mengkritisi dinamika kampus dengan se abreg potensinya yang luar biasa. Ketika nafas semangat sedang dalam fase “ekspirasi”, yang ditakutkan adalah tidak bisa melakukan inspirasi lagi. Butuh nafas berulang kali untuk berlari ke tujuan. Dan bukan kadangkala lagi, sifat manusiawi dan dinamika kehidupan membuat fatamorgana dalam pandangan. Ketika ditanya, apa yang akan saya lakukan, saya menjawab: tidak tahu. Tidak ada yang saya tahu dan tidak ada yang ing...

monolog

Carotid 2014: Emergency Medicine, Eijkmann 26 Oktober 2014. Ketika mencari tempat pelarian agar berhenti menyalahkan diri sendiri. Rasanya nyesek banget saat itu. lelah. Apakah saya pergi ke tempat yang salah?  Saat itu, saya seperti bisa melihat garis-garis lelah dan pikiran mereka masing-masing. Rupanya bukan hanya saya seorang. Kemudian saya merasa bersyukur, Allah masih memunculkan rasa bersalah dari sudut hati. Saya yang udah puguh mengapa tidak bisa terus maju? Menagapa berhenti? Setidaknya jangan mundur, Had! Setelah ini, rasanya ingin segera berlari.