Langsung ke konten utama

menjadi Rabbani

Bismillah

Bulan-bulan seperti ini dimana sedang masanya regenerasi (dan ujian). Saya ingat sekali rasa dan pikiran sekitar satu tahun yang lalu, ketika ego membuncah dan perjalanan panjang membuat saya lelah perasaan, dibayang-bayangi gemerlap kehidupan, Allah memberikan resistensi level baru dalam kehidupan saya.

Saya bukan anak pembinaan dan kaderisasi, apalagi seorang dalam struktural tinggi, saya hanya seorang staff yang apa atuh, sukanya hilang-hilangan tapi masih ingin diaku. Jadi, saya merasa tidak layak untuk mengkritisi dinamika kampus dengan seabreg potensinya yang luar biasa.

Ketika nafas semangat sedang dalam fase “ekspirasi”, yang ditakutkan adalah tidak bisa melakukan inspirasi lagi. Butuh nafas berulang kali untuk berlari ke tujuan. Dan bukan kadangkala lagi, sifat manusiawi dan dinamika kehidupan membuat fatamorgana dalam pandangan.

Ketika ditanya, apa yang akan saya lakukan, saya menjawab: tidak tahu. Tidak ada yang saya tahu dan tidak ada yang ingin saya capai di dalamnya, sehingga kemudian mendukung pernyataan: untuk apa saya melakukannya sementara masih ada orang yang lebih layak dan mampu untuk peduli?

Mereka bilang tiap dari kita punya value-nya masing-masing.

Terserah mereka mau berfikiran apa tentang hal ini dan itu, sesungguhnya saya berusaha untuk tidak apatis. Jauh dalam jiwa saya ingin berteriak pula lebih kuat dari yang mereka lakukan. Saya ingin teriak karena merasa ada amanah dalam ketidaksanggupan saya, sebagai bagian dari sebuah generasi.

Saat ditanya, “ Hadi, arti namamu (Rabbani) apa?” Saya hanya tersenyum dan bilang, “ toko kerudung”. Jauh dari yang saya tahu, maknanya terlalu dalam dan berat untuk disandangkan pada seorang saya yang seperti ini.
Rasulullah dan para pewarisnya yang lurus meminta ummat untuk menjadi orang-orang Rabbani. “Yang disifati Rabbani adalah para ahli hikmah, ahli ilmu, dan para pemilik kesabaran,” demikian menurut Ibn ‘Abbas. Adapun Hasan Al-Basri menyatakan,”Mereka adalah ahli ibadah kepada Allah dan ahli taqwa di tengah-tengah manusia.”
 
“Sifat Rabbani adalah pujian yang sangat agung dari Allah kepada hamba-Nya,” tulis Sayyid Quthb dalam Zhilal,” sampai-sampai Allah menisbatkan para hamba ini pada diri-Nya yang mencipta, memelihara, memberi rizqi, mengatur, memiliki, mendidik, menumbuhkan dan mengembangkan. Dengan para hamba Rabbani inilah Allah menghadirkan penjagaan, bimbingan, pengajaran, dan kepemimpinan pada umumnya manusia.
 
Rabbani, ujar Imam Ibn Jarir Ath-Thabary merangkum penafsirannya dalam Jami’ul Bayan’an Ta’wili Ayil Quran,”menggambarkan setidaknya lima keadaan pada suatu sosok.” Kelimanya : ‘alim, faqih, bashirun bis siyasah, bashirun bit tadbir, al-qa’im bi syu’unir ra’iyah li yushlihu umura dinihim wa dunyahum.
 
Hamba Rabbani adalah dia yang alim. Keadaannya sedang dan terus berpengetahuan dengan pembelajaran tak kenal henti. Dia terus menggali dan mendalamkan, menghubung dan meluaskan. Sang alim tak membeda-bedakan ilmu menjadi duniawi dan agamawi, meski ada tingkatan menurut yang lebih penting dan harus didahulukan. Semuanya tetap ilmu Allah selama dibaca dengan asma-Nya dan di faedahkan bagi kemaslahatan insan dan semata.
 
Sejalan dengan menjadi alim, seorang hamba Rabbani diharapkan juga berjuang menuju kedalaman seorang faqih. Janganlah hanya menjadi perbendaharaan ilmu, sebab ada tuntutan utk menghubungkan setiap pengetahuan dan keadaan nyata yg berjalan dalam keseharian. Menjadi hamba Rabbani adalah menjadi alim sekaligus faqih ; bagai rahib yang khusyuk di perpustakaan dan ruang percobaan ilmiah, kemudian bagai singa yang tangkas dan cermat menghadapi persoalan nyata masyarakat.
 
Sifat hamba Rabbani yang ketiga : bashirun bis siyasah : melek, mengerti, dan waspada terhadap politik. Pertama-tama memahami agar hamba-hamba yg alim lagi faqih tidak terbudakkan kuasa kejahatan. Politik menyentuh berbagai sisi dan segi yg amat luas dalam kehidupan bermasyarakat semua insan. Maka sungguh penguasa dunia politik yg berhasil mengecoh ahli ilmu nan lugu utk membantunya berbuat aniaya dan mungkar, akan jadi tebaran kerusakan yg sukar ditanggulangi. Selanjutnya,seorang Rabbani menggunakan dan mendukung siyasah utk, seperti kata Sayyidina Abu Bakr, membuat masjid untuk mampu menundukkan pasar. Seperti kata Sayyidina Umar, utk menguatkan orang mulia dan melemahkan orang durjana. Seperti arahan Sayyidina Ustman, utk memperlihatkan dg nyata mana yg benar2 baik dan mana yg benar2 buruk. Dan seperti wanti-wanti Sayyidina Ali, agar kejahatan yg tertata dengan baik tdk mengalahkan kebajikan yg karut-marut.
 
Sifat hamba Rabbani yang keempat : bashirun bit tadbir : melek, mengerti dan melaksanakan manajemen. Para ahli ilmu hendaknya memahami pengelolaan sumber daya dari perencanaan, penataan, pelaksanaan, pengendalian, timbal balik, hingga perbaikannya. Juga agar jalan perjuangannya mereka memahami bagaimana mengelola hati dari sosok-sosok yang penuh potensi.
 
Terakhir, Sifat hamba Rabbani yang kelima : al-qa’im bi syu’unir ra’iyah li yushlihu umura dinihim wa dunyahum. Ia bermakna bahwa hamba yang dianugerahi celupan sifat-sifat mulia oleh Sang Pencipta, harus giat terlibat menegakkan urusan-urusan kerakyatan untuk memperbaiki perkara agama juga dunia mereka. Ahli ilmu Rabbani tertuntut utk peduli dan melayani. Sebab, asas utama langgengnya nilai dan tatanan adalah kebermanfaatan yang dirasakan kaum luas. Ahli ilmu harus tak sekedar hebat, melainkan juga luas terasa bermanfaat.
Jauh, jauh, jauh dari kepantasan.
“ Tidak tahu, dok”
Teman saya kemudian menegur, “ kamu harus terlihat seperti seorang terpelajar, Had!” Saya diam.
“ Aku tahu sebetulnya kamu bisa berubah kan?” katanya, maksudnya berubah jadi ultraman.
“ Ayo hadi, bicaralah!”
“ Saya mengantuk,” jawab saya sambil menyandarkan kepala ke atas meja.
“ Bohong. Lu harus bicara. Gue tau lu belum mengeluarkan semua kemampuan lu disini. Kemampuan lu pasti lebih dari ini kan!”
Entahlah.
yang terjadi adalah karena saya berada di posisi yang sudah tau akan seberapa berat risiko-konsekuensi dari sebuah amanah dan ketaatan. Salah karena ia tidak diiringi sebuah keberanian.

Jika benar begitu, apa yang bisa saya lakukan untuk bisa mengeluarkan semuanya?
Kemudian saya keluar. Menghirup udara senja sambil melihat pepohonan di suatu taman di Bandung. Duduk menunggu. Yang di sebelah hanya makan keripik. Lalu kami berjalan menuju tempat yang belum pasti. Ingin saya bercerita semuanya, tapi tetap saja tidak bisa. Karena memang rupanya harusnya begitu. Saya hanya perlu berjalan bersamanya tanpa berkata apapun.
karena saya harus kuat dan tidak boleh mundur untuk menapaki jalan menjadi bagian dari generasi Rabbani. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Students Day

6 September 2012, Unpad Ada student day. Ngapain? Ya, ga jelas , pamer UKM, parade fakultas, yang penting sih ketemu temen temen 20, temen temen smp. Hadi kaya anak ayam panda kehilangan induk. bukan, maksudnya ngebaur aja sama fakultas lain. Ke stand-stand bareng ifa sama temen-temennya (faperta), yang temen temennya ternyata sangat ingin masuk fk, dan sindrom itu muncul lagi di kepala. Ketemu temen-temen smp, ifa, pipah, aizzah, qonita, andra, ketemu sama temen-temen dua puluh, sama ichwan, sama endo, sama temennya yang aku kira kevin, sama novi, sama achmad yang ternyata satu fakultas sama andra, ketemunya bareng dan sama-sama manggil, terus pada pa pelong-pelong gitu mereka, manggil orang yang sama, haha, ga ngerti ah. Ketemu sama franklin sama sofah, cerita banyak. malah ngerasa jadi curcol sama mereka about what happen with hadi in FK. Terus cerita kalau mereka udah ketemu sama kakak hadi. dan berita sudah menyebar luas. Yang bodor itu ketemu sama kakak sendiri, tapi g...

tutor #2

tendy-assica-icha-dila-cibi-rikho-diyar-wardah-nisa-hadi-salma Tutor B2 *berprestasi banget* Iya, ini tutor berprestasi banget, soalnya dosen wali kita adalah jeng. dosen wali kita bukan dokter! yang terkenal di dunia per-lab-act-an tahun satu, yang akan mendoakan setiap laki-laki agar menjadi imam yang baik, yang siapa cepat dialah yang berprestasi. Iya, jadi ceritanya baru sekitar sebulan yang lalu kita dikasih (?) dosen wali, dan betapa terkejutnya kita dapet beliau ini, sementara yang lain dosen walinya dokter... apalagi yang grup e-f, dokternya dokter yang zaman kekinian, masih muda. Yaudah sih, biar jadi tutor berprestasi. Foto ini diambil hari senin pagi, waktu tutor case hypoglicemia, sama dokter tutornya. Asli, tutorialnya saat itu, ga seperti arus tutorial, karena tutor kita saat itu adalah... dr.syamsudin :D. Kadept biokimia, yang baik banget, selalu ngasih LO* #eh , iya katanya dokter ini tuh suka bagi-bagi coklat, tapi pas di tutor kita ga pernah tuh...

Propaganda Hari IP FK Unpad

Rasanya saya jadi terlalu nyampah di blog. Mungkin begitu. Tapi biarlah jadi kapsul waktu yang nanti tiba-tiba saat jadi dokter, begitu -apanyalah- saya jaman dahulu, jaman SMA, jaman kuliah. Rasanya, banyak hal juga yang ingin saya ceritakan pada semua yang mau mendengar, mau membaca, tentang pengalaman saya ikut 'bolt 4' di kampus, yang jargon buatan kita tuh sebenernya ga banget. Terus, ketika saya ngerasa satu langkah lebih dekat untuk kenal dengan orang yang menginspirasi saya secara langsung. Yaitu beliau yang isi 'tausiyah'nya pernah saya post disini . Ya, biarlah, merasa keren sendiri nama 'gue' pernah disebut sama beliau. hahaha. Saya yakin, memori beliau insya Allah bagus, seengganya inget nama saya juga udah cukup, ya Kang. hehe. Beliau bilang dengan menulis, usia kita bisa lebih panjang. Ya yang ingin saya ceritakan pada awalnya bukan tentang itu. Tapi tentang hari ini, tanggal 14 Februari 2013. Seperti yang teman-teman tau, itu adalah hari ...