Langsung ke konten utama

Postingan

The Sixth S

Akhirnya hari itu pun sudah terlewati, dan tinggal dua kali S lagi setidaknya kami lega bahwa kami sudah berhasil hidup bertahan di hutan :') .lebay. Belum tau aja dalamnya samudra Hindia dan Pasifik yang kemudian harus kami lewati, tekanannya tinggi banget. S keenam ini keliahatan banget begonya saya didepan dokter penguji. Ya gimana engga, kalau alhamdulillah saya dapet case yang saya lepas. Terharu pake banget sambil dalam hatinya meringis menangis.  Awalnya udah punya feeling bakal dapet case itu karena dari pengalaman S ke 2 hingga S ke 5 saya selalu dapat case 1 atau 4 sistem pertama di semester tsb. Jika memang begitu semsester depan saya belajar GIS aja #eh. Dan beneran aja pas buka soal yang saya cari pertama adalah tulisan Diagnosis. Allah, saya dapat case ini, case yang engkau tahu bahwa hamba benar-benar memasrahkannya pada Mu.  Panik banget saya gatau saya mau story telling apa nanti dihadapan dokter pengujinya. bahkan saya gatau harus nulis...

Hari Yang Kutakutkan

Dan hari yang kutakutkan pun tiba. Hari dimana ketika itu aku sedang tidak lagi bersamamu dan bersama kita . Tidak seperti saat jari jemari diam dalam geraknya, khusyu’ menundukkan qalbu, merasa lemah dan hina mendengar tiap kalimat yang selalu tertuju pada manusia. Akulah, Kamilah orangnya yang tersangka. Tidak seperti saat mulut kita tersenyum dan tertawa, mata yang sayu namun teduh dengan ingin kita yang lebih dari sekedar harapan dan wacana, menghimpun dalam naungan yang dengan izinNya jauh dari mimpi dan realita yang fana. Tidak lagi menghitung tetes keringat atau butir beras yang  dimakan pun lembaran mata uang. Berhasil mendidihkan semangat-semangat yang mengalir di urat darah seperti lagu mentari. Dan hari yang kutakutkan pun tiba. Hari dimana ketika itu aku sedang tidak lagi bersamamu dan bersama kita . Hari ketika buah kelapa terbawa oleh ombak. Kaki ini sudah melangkah, mata sudah menatap, dan tangan sudah mengayun. Diiringi gemericik dan melodi kehidupan yang m...

menjadi Rabbani

Bismillah Bulan-bulan seperti ini dimana sedang masanya regenerasi (dan ujian). Saya ingat sekali rasa dan pikiran sekitar satu tahun yang lalu, ketika ego membuncah dan perjalanan panjang membuat saya lelah perasaan, dibayang-bayangi gemerlap kehidupan, Allah memberikan resistensi level baru dalam kehidupan saya. Saya bukan anak pembinaan dan kaderisasi, apalagi seorang dalam struktural tinggi, saya hanya seorang staff yang apa atuh , sukanya hilang-hilangan tapi masih ingin diaku. Jadi, saya merasa tidak layak untuk mengkritisi dinamika kampus dengan se abreg potensinya yang luar biasa. Ketika nafas semangat sedang dalam fase “ekspirasi”, yang ditakutkan adalah tidak bisa melakukan inspirasi lagi. Butuh nafas berulang kali untuk berlari ke tujuan. Dan bukan kadangkala lagi, sifat manusiawi dan dinamika kehidupan membuat fatamorgana dalam pandangan. Ketika ditanya, apa yang akan saya lakukan, saya menjawab: tidak tahu. Tidak ada yang saya tahu dan tidak ada yang ing...

monolog

Carotid 2014: Emergency Medicine, Eijkmann 26 Oktober 2014. Ketika mencari tempat pelarian agar berhenti menyalahkan diri sendiri. Rasanya nyesek banget saat itu. lelah. Apakah saya pergi ke tempat yang salah?  Saat itu, saya seperti bisa melihat garis-garis lelah dan pikiran mereka masing-masing. Rupanya bukan hanya saya seorang. Kemudian saya merasa bersyukur, Allah masih memunculkan rasa bersalah dari sudut hati. Saya yang udah puguh mengapa tidak bisa terus maju? Menagapa berhenti? Setidaknya jangan mundur, Had! Setelah ini, rasanya ingin segera berlari.

Antara Idealis dan Realistis

Jadi suatu ketika, saat skills lab , dokter RP kami "curhat" tentang keadaan dosen dan dokter di kampus yang ga harus juga saya ceritakan. Entah, yang saya tangkap dari hasil trigger -nya adalah untuk meraih kemajuan di bidang kesehatan, harus menjadi kapitalis. cmiiw. Ada sekelumit penolakan dari hati. Mengapa harus begitu? " Tapi kan dok, kalau jadi dokter layanan primer dan atau kerja di daerah kan akan jadi lebih ingat sama ilmu kita, lebih nerap, kalau kita ingin belajar ," kurang lebih begitulah salah satu dari kami berpendapat. Lalu hening. " Ya kalau itu tujuan kamu untuk belajar. Kenyataannya? " Masing-masing dari kami mungkin menjawab, kenyataanya tidak seperti itu, Saat bubar, teman-teman yang lain mengomentari pendapat si salah satu dari kami yang berpendapat, "Liat aja ntar, lama kelamaan idealisme lo bakal ilang ditelan realita," Lah terus kenapa? Apakah salah menjadi orang yang idealis di tengah kondisi masy...

Saat Ayah Mengorbankan Anak Karena Allah

Saya nge- like banget sama kisah teladan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as yang menjadi sunnah ibadah berqurban. Tapi sayangnya, masih jauh dari teladan keduanya :( Dan Ibrahim berkata: "Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.   "Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.    Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.   Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".   Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).   Dan Kami panggillah dia: ...