Langsung ke konten utama

Saat Ayah Mengorbankan Anak Karena Allah

Saya nge-like banget sama kisah teladan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as yang menjadi sunnah ibadah berqurban. Tapi sayangnya, masih jauh dari teladan keduanya :(

Dan Ibrahim berkata: "Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. 
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.  
Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. 
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". 
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). 
Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, 
sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. 
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. 
Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 
(yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". 
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 
Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. 
(TQS.37:99-111)

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
(TQS 22:37)

Jelas itu bukan dongeng, tapi benar-benar kisah teladan seorang ayah dan anaknya. Yang gak perlu ditanya lagi keimanan dan ketakwaannya sudah setinggi apa, yang saya merasa masih sangat jauh darinya.

Maka saat itu, pengorbanan apa yang lebih besar bagi Nabi Ibrahim selain Ismail kecil yang baru saja ia temui dari sekian lama ditinggalkannya sejak lahir?

Maka saat itu, seorang anak mana yang lebih takwa dan sabar selain Ismail kecil yang memberikan nyawanya untuk menjalankan perintah Allah? Betapa luar biasanya Siti Hajar berhasil mencetak seorang anak kecil yang menyambut mimpi bapaknya dengan kalimat  kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.

Seandainya, Nabi Ibrahim mengedepankan perasaan ke-bapak-an-nya, dan Ismail adalah seorang anak yang manja? Sayangnya keduanya bukanlah makhluk yang bisa disentil dengan kecondongan kepada ketanahan. Keduanya menyadari posisi mereka saat itu adalah Hamba Allah, lebih keren dari hubungan ayah dan anak biasa.

Pengorbanan apa bagi kita yang setara dengan Ismail-nya Nabi Ibrahim? Kalau belum berani mengurbankan Ismail kita, mungkinkah kita merasakan perasaan seorang bapak yang mendapat ganti biri-biri untuk anaknya? tidak, harusnya mungkinkah kita merasakan perasaan lega yang Allah berikan sebagai reward dari lulus ujian-Nya?

Wallahu a'lam
Allahummaj'alnii min 'ibaadikasshaalihiin. Allahummaj'alnii min 'ibaadikashshaabiriin

Bandung 10 Dzulhijjah 1435 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalur Belakang

cuma mau cerita, ga bermaksud dicontoh, kecuali Anda menemukan hal yang patut untuk dicontoh Tadi pagi, aku jadi anak nakal FK. Kenakalan mahasiswa untuk pertama kalinya (rasanya begitu). Kalau cari pembenaran, banyak. Ini bukan salahku. Aku sudah punya rencana. Informasinya telat. Yang lain juga begitu. Tadinya ga akan kaya gini bu, cuman... bla bla bla . Mungkin aku bilang begitu, kalau nanti ibu asrama tanya. Aku sudah punya rencana, kalau Sabtu pagi pagi seperti aku berangkat sekolah, aku akan pulang ke Bandung. Aku punya rencana dan janji yang ingin ditunaikan, sekaligus menghilangkan homesick bulan september. Tapi, ancaman ini datang malam sebelumnya. Sekitar 10 jam sebelum aku akan keluar dari asrama. Jrengjreng... jarkom telat. Kalau seharusnya, hari ini, 2012 fk, wajib ikut lustrum XI, peringatan dies natalis fk ke 55. Dengan dresscode batik. Rencana pulang bukan aku saja yang punya. Cobalah, kau tanya anak-anak bandung, atau sekitarnya, bahwa pulang ada di age...

SOOCA perdana :')

Hai! Hari ini hari yang penting bagi kami. Hari yang mungkin merupakan klimaks uts. Ada ujian apa? ada sooca ! Ye!!! Jadi ujiannya sih sebenernya biasa aja. Sebenernya. Tapi, uts disini tuh berasa berattt... banget. Masa galau Cuma uts doang? Ya mungkin uts perdana kali ya. Tapi sama deg-degannya dengan mau ngadepin snmptn. Pusingnya juga. Capenya juga. Setelah melewati tahap satu dengan 200 soal bahasa inggris atau yang kemudian disebut dengan MDE atau multidisplinary examination part satu tentang biokimia, lalu tahap dua, ujian CRP atau clinical research program yang ujiannya menurutku out of the box, hari ini, tahap yang sangat ditunggu-tunggu untuk dilewati dengan penuh kesungguhan, harapan, dan harus prognosis yang ad bonam , yang katanya sih, kamu harus bilang ‘wow’, yaitu sooca yang sesuatu banget. Sooca itu ujian lisan. Pertama kita dateng pagi-pagi. Terus diisolasi dalam ruangan yang kamu Cuma bisa melihat, bernafas, dan pada akhirnya belajar! Atau ...

another exam: ujian dalam ujian dalam ujian

Sedang tidak produktif menulis. Alasan yang terpikirikan hanya satu: kurang input alias baca. Baca sih, baca soal, outputnya berupa bulatan hitam di LJK. Baca draft osce, outputnya saat osce tadi dan outcomenya berupa nilai. Yeay! :D Oleh karenanya, saya mau nulis yang lebih tepatnya curhat tentang osce. Mulai dari kebagian jadwal osce yang diundur karena beberapa yang saya anggap banyak hal, hingga merasa diri ini bodoh karena ceroboh. Seperti postingan satu semester yang lalu tentang osce , osce itu suatu ujian yang cuma 2 sks tapi belajarnya aduh-aduhan. Tapi pasti worth it, karena ini tentang skill klinis seorang dokter. Hadi lebih suka menyebutnya dokter-dokteran. Oleh karenanya, wajib dapet A tanpa minus, karena memang kenyataannya ga ada A(-). Jadi ceritanya, saya dan 68 orang kurang beruntung lainnya, yang kebagian jadwal ujian hari Kamis dipulangkan setelah menunggu 3 jam dan datang pagi-pagi kehujanan  (penuh penekanan) karena alasan yang tidak bisa saya sebu...