Langsung ke konten utama

Antara Idealis dan Realistis

Jadi suatu ketika, saat skills lab, dokter RP kami "curhat" tentang keadaan dosen dan dokter di kampus yang ga harus juga saya ceritakan. Entah, yang saya tangkap dari hasil trigger-nya adalah untuk meraih kemajuan di bidang kesehatan, harus menjadi kapitalis. cmiiw.

Ada sekelumit penolakan dari hati. Mengapa harus begitu?

"Tapi kan dok, kalau jadi dokter layanan primer dan atau kerja di daerah kan akan jadi lebih ingat sama ilmu kita, lebih nerap, kalau kita ingin belajar," kurang lebih begitulah salah satu dari kami berpendapat. Lalu hening.

"Ya kalau itu tujuan kamu untuk belajar. Kenyataannya?"
Masing-masing dari kami mungkin menjawab, kenyataanya tidak seperti itu,

Saat bubar, teman-teman yang lain mengomentari pendapat si salah satu dari kami yang berpendapat, "Liat aja ntar, lama kelamaan idealisme lo bakal ilang ditelan realita,"

Lah terus kenapa? Apakah salah menjadi orang yang idealis di tengah kondisi masyarakat yang realistis?

Idealnya sih ya, seorang dokter kan mengabdi pada measyarakat, tidak menjadikan dokter sebagai "profesi", menerapkan prinsip preventif promotif kuratif rehabilitatif, meningkatkan derajat sehat masayarakat, dan lain-lain yang saya rangkum menjadi: pengamalan kuliah BHP.

Realitanya, bisa lihat sendiri :""

Menjadi mahasiswa tingkat satu, mahasiswa pre-klinik, adalah masa-masa idealis. Semakin lama terpapar, kita semakin sadar akan kenyataan yang akan dihadapi. Itulah mengapa pemuda membawa perubahan, mungkin salah satunya karena masih idealis.

Lalu, salahkah bila menjadi idealis? Pertanyaan yang tepat mungkin: Bisakah tetap memegang idealisme hingga akhir di tengah kenyataan yang jauh berbeda? Sanggupkah bertahan?

"Gue mah sih ya Had kalau seandainya pun ntar jadi orang realistis, seengganya gue pernah merasakan jadi orang idealis. Semoga aja tercatat jadi niat baik. Sekarang mah lakuin aja yang terbaik kita bisa."

Mungkin berjalan di antara keduanya, menjadi orang yang optimis jawabannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalur Belakang

cuma mau cerita, ga bermaksud dicontoh, kecuali Anda menemukan hal yang patut untuk dicontoh Tadi pagi, aku jadi anak nakal FK. Kenakalan mahasiswa untuk pertama kalinya (rasanya begitu). Kalau cari pembenaran, banyak. Ini bukan salahku. Aku sudah punya rencana. Informasinya telat. Yang lain juga begitu. Tadinya ga akan kaya gini bu, cuman... bla bla bla . Mungkin aku bilang begitu, kalau nanti ibu asrama tanya. Aku sudah punya rencana, kalau Sabtu pagi pagi seperti aku berangkat sekolah, aku akan pulang ke Bandung. Aku punya rencana dan janji yang ingin ditunaikan, sekaligus menghilangkan homesick bulan september. Tapi, ancaman ini datang malam sebelumnya. Sekitar 10 jam sebelum aku akan keluar dari asrama. Jrengjreng... jarkom telat. Kalau seharusnya, hari ini, 2012 fk, wajib ikut lustrum XI, peringatan dies natalis fk ke 55. Dengan dresscode batik. Rencana pulang bukan aku saja yang punya. Cobalah, kau tanya anak-anak bandung, atau sekitarnya, bahwa pulang ada di age...

SOOCA perdana :')

Hai! Hari ini hari yang penting bagi kami. Hari yang mungkin merupakan klimaks uts. Ada ujian apa? ada sooca ! Ye!!! Jadi ujiannya sih sebenernya biasa aja. Sebenernya. Tapi, uts disini tuh berasa berattt... banget. Masa galau Cuma uts doang? Ya mungkin uts perdana kali ya. Tapi sama deg-degannya dengan mau ngadepin snmptn. Pusingnya juga. Capenya juga. Setelah melewati tahap satu dengan 200 soal bahasa inggris atau yang kemudian disebut dengan MDE atau multidisplinary examination part satu tentang biokimia, lalu tahap dua, ujian CRP atau clinical research program yang ujiannya menurutku out of the box, hari ini, tahap yang sangat ditunggu-tunggu untuk dilewati dengan penuh kesungguhan, harapan, dan harus prognosis yang ad bonam , yang katanya sih, kamu harus bilang ‘wow’, yaitu sooca yang sesuatu banget. Sooca itu ujian lisan. Pertama kita dateng pagi-pagi. Terus diisolasi dalam ruangan yang kamu Cuma bisa melihat, bernafas, dan pada akhirnya belajar! Atau ...

another exam: ujian dalam ujian dalam ujian

Sedang tidak produktif menulis. Alasan yang terpikirikan hanya satu: kurang input alias baca. Baca sih, baca soal, outputnya berupa bulatan hitam di LJK. Baca draft osce, outputnya saat osce tadi dan outcomenya berupa nilai. Yeay! :D Oleh karenanya, saya mau nulis yang lebih tepatnya curhat tentang osce. Mulai dari kebagian jadwal osce yang diundur karena beberapa yang saya anggap banyak hal, hingga merasa diri ini bodoh karena ceroboh. Seperti postingan satu semester yang lalu tentang osce , osce itu suatu ujian yang cuma 2 sks tapi belajarnya aduh-aduhan. Tapi pasti worth it, karena ini tentang skill klinis seorang dokter. Hadi lebih suka menyebutnya dokter-dokteran. Oleh karenanya, wajib dapet A tanpa minus, karena memang kenyataannya ga ada A(-). Jadi ceritanya, saya dan 68 orang kurang beruntung lainnya, yang kebagian jadwal ujian hari Kamis dipulangkan setelah menunggu 3 jam dan datang pagi-pagi kehujanan  (penuh penekanan) karena alasan yang tidak bisa saya sebu...