Langsung ke konten utama

Never Ending Story: S #4

Mungkin memang itu judul yang tepat untuk sooca. Karena setelah kamu memilih "ini", sooca akan terus ada sampai akhir hayat. Kalau pas S.Ked soocanya ya 20 menit di depan dokter dan diapresiasi dengan nilai, ketika koas soocanya adalah pasien beneran dalam waktu yang mungkin sehari dan mungkin masih diapresiasi dengan nilai, setelah jadi dokter beneran, kasusnya dari pasien nyata, dengan waktu berhari-hari dan dititipkan "nyawa".

Saya mulai kisah ujian yang paling seru di tanggal tujuh Januari ini dari tahap perisapan, yang aduhai, selalu wacana awal semester. (mungkin bagi beberapa orang, ini sudah bukan wacana lagi). Ngedraft apalah itu, saya lebih memilih untuk ngedrug  aja -____-. 
Pagi hari yang lemas tanpa suara. Ketika semua orang sibuk membulak-balik kertas draftnya, saya tidak tahu apa yang harus saya baca. Terlalu banyak yang saya tak paham dan saya tidak punya bahan bacaan. Yang bisa saya andalkan adalah pendengaran, mendengar suara-suara orang berbicara menghafal satu sama lain, seolah-olah saya halusinasi pendengaran macam pasien psikiatri. 
Terus badai atau mimpi buruk apa saya bagian kloter pertama. Kalau dibilang, ini sooca tertidaksiap saya. Dan saya dengan sok beraninya mempertaruhkan 40% 17 sks dengan persiapan ala goreng bala-bala. Saya cuma bisa pasrah saat perjalanan menuju ruangan.
Ya Allah, persiapan saya dibanding yang lain mungkin jauh sejauh langit dan bumi. Doa saya dibanding yang lain tidak secepat kilat cahaya dan tidak sekencang teriakan orang yang berteriak sekuat tenaga. Tapi Engkau Maha Mengetahui apa yang hamba lakukan. Gantilah dengan yang terbaik.
Karena cloter pertama, ga diisolasi lama-lama. Saya masuk, dan saya ambil undian, lalu dapat case yang sesungguhnya, dianatara 16 case, tergolong yang tidak saya pahami dan tidak disiapkan sebaik mungkin. Sesungguhnya lagi, saya baru saja tadi pagi mendengar penjelasan Ulfah tentang isi case tsb. Dan sesungguhnya lagi, kalau ditanya seberapa siap kamu tentang case ini? saya beri 5 dari 10.

Tadi itu, proses membuat flipchart tersantai yang pernah saya lakukan selama sooca, saking desperate dan sedihnya. Biasanya semangat karena bisa. Pingin nangis, walau sebelumnya udah disemangatin sama yang lain. Dan sesungguhnya, ucapan semangat mereka adalah salah satu bentuk menghilangkan ketegangan diri sendiri. Ah sudahlah, masa mau menyerah terhadap sooca?

Sampai ruangan, dokter penguji saya adalah dr.Yulia, yang rumahnya pernah saya tiduri Agustus kemarin. Entah dokter masih ingat atau tidak sama saya, karena saya hanyalah mahasiswa biasa, semoga hal itu tidak memengaruhi penilaian Anda terhadap saya. 

Dan itu presentasi tersantai saya. Saya sengaja lakukan itu, selain karena pasrah, karena gatau harus ngomong apa. Jadi sengaja mengulur waktu. Saya bukan tipe orang yang bisa mengarang bhp phop crp. Minimal saya punya ingatan tentangnya walau cuma "seayat"

Jreng, bagian evaluasi ini yang saya suka dari hari ini.
Seperti yang saya duga, bagian tertentu terutama patofisiologi kurang dibahas mendalam, dan juga PP obat. Padahal bagian itu mempunya nilai yang besar untuk sooca. Ya, dengan persipan seperti itu. Dan yang bikin nyesek adalah ketika dokter bilang, "Saya kagum dengan daya ingat kamu. Apa yang saya tulis kamu sebut semua". Beliau mengemasnya dengan kata-kata pujian tapi Wernick area saya menerima bahwa itu adalah sindiran. Gimana engga, saya baru menghapal dan belajar dari celotehan Ulfah 30 menit sebelum sooca dimulai. "Saya juga suka sama concept map kamu. Sejujurnya, saya kagum dengan daya ingat kamu. Tapi, ada cukup banyak bagian yang kurang, ................................"

Saya merasa tersentil. Proses belajar saya selama ini. Mungkin ada bagian yang harus kamu hafal, tapi ada juga yang harus kamu pahami dengan sungguh-sungguh.

"Itu kelebihan kamu, pertahankan ya. Yang kurangnya tentunya harus ditingkatkan"
Saya pingin nagis ditempat rasanya. dokter berhasil mengemas kritikan dalam pujian, yang membuat saraf saya terstimulasi. Tapi, limbic system saya berhasil menahan dan menyuruh syaraf parasympatetic ke lacrimal gland untuk tidak mensekresikan lacrimal fluid.

Ya, hasilnya tidak teralu bagus. Tidak ada yang harus dikecewakan untuk hasil dengan usaha bala-bala itu. Justru, terlalu bagus untuk usaha bala-bala, saya rasa. 

Ketika berdoa, saya ingin Allah mampukan saya melewatinya, bukan mudahkan ujiannya. Saya ingin Allah lancarkan prosesnya, bukan baguskan hasilnya. 
Dan ketika mulut berucap atas sinyal dari Broca area, ketika fine motor saya berhasil menulis flipchart, ketika gross motor berhasil membuat saya berjalan, ketika frontal area masih bisa berfikir, ketika limbic system saya masih bekerja untuk merekam semua ingatan dan merecall-nya kembali, ketika hormon saya berfungsi dengan baik untuk menjaga keadaan tenang itu, ketika glutamat dan GABA bekerja pada porsinya saat itu, bukankah itu juga bentuk kelancaran proses dari Allah?

Tenanglah, sooca bukan satu-satunya ujian. Ia bukan ujian terberat dalam hidup tapi membuat hidup jadi berat (dan tapi ujian paling menegangkan di fk :p). Ia tidak membuat seseorang menjadi hebat atau tidak hebat. Karena sooca is nothing! Luruskan niat lagi, bismillah :)



Selamat sooca ke 6 buat mba put, tante dira, dan teh jihan. Sudah kebal sama syndrom sooca harusnya ;)

Selamat sooca kedua untuk adik-adik mentor 5: ade, rara, aliya, leo, sayang, dina, devina, anggia, khanza, rofi. Buat adik-adik fasil satu juga: opa, najmi, uva, wawa, viena, tiffani, mia. Buat teman baik yang pernah jadi teman sekelas: isti. Sooca terlalu banyak menyimpan cerita dan hikmah untuk kita syukuri :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalur Belakang

cuma mau cerita, ga bermaksud dicontoh, kecuali Anda menemukan hal yang patut untuk dicontoh Tadi pagi, aku jadi anak nakal FK. Kenakalan mahasiswa untuk pertama kalinya (rasanya begitu). Kalau cari pembenaran, banyak. Ini bukan salahku. Aku sudah punya rencana. Informasinya telat. Yang lain juga begitu. Tadinya ga akan kaya gini bu, cuman... bla bla bla . Mungkin aku bilang begitu, kalau nanti ibu asrama tanya. Aku sudah punya rencana, kalau Sabtu pagi pagi seperti aku berangkat sekolah, aku akan pulang ke Bandung. Aku punya rencana dan janji yang ingin ditunaikan, sekaligus menghilangkan homesick bulan september. Tapi, ancaman ini datang malam sebelumnya. Sekitar 10 jam sebelum aku akan keluar dari asrama. Jrengjreng... jarkom telat. Kalau seharusnya, hari ini, 2012 fk, wajib ikut lustrum XI, peringatan dies natalis fk ke 55. Dengan dresscode batik. Rencana pulang bukan aku saja yang punya. Cobalah, kau tanya anak-anak bandung, atau sekitarnya, bahwa pulang ada di age...

SOOCA perdana :')

Hai! Hari ini hari yang penting bagi kami. Hari yang mungkin merupakan klimaks uts. Ada ujian apa? ada sooca ! Ye!!! Jadi ujiannya sih sebenernya biasa aja. Sebenernya. Tapi, uts disini tuh berasa berattt... banget. Masa galau Cuma uts doang? Ya mungkin uts perdana kali ya. Tapi sama deg-degannya dengan mau ngadepin snmptn. Pusingnya juga. Capenya juga. Setelah melewati tahap satu dengan 200 soal bahasa inggris atau yang kemudian disebut dengan MDE atau multidisplinary examination part satu tentang biokimia, lalu tahap dua, ujian CRP atau clinical research program yang ujiannya menurutku out of the box, hari ini, tahap yang sangat ditunggu-tunggu untuk dilewati dengan penuh kesungguhan, harapan, dan harus prognosis yang ad bonam , yang katanya sih, kamu harus bilang ‘wow’, yaitu sooca yang sesuatu banget. Sooca itu ujian lisan. Pertama kita dateng pagi-pagi. Terus diisolasi dalam ruangan yang kamu Cuma bisa melihat, bernafas, dan pada akhirnya belajar! Atau ...

another exam: ujian dalam ujian dalam ujian

Sedang tidak produktif menulis. Alasan yang terpikirikan hanya satu: kurang input alias baca. Baca sih, baca soal, outputnya berupa bulatan hitam di LJK. Baca draft osce, outputnya saat osce tadi dan outcomenya berupa nilai. Yeay! :D Oleh karenanya, saya mau nulis yang lebih tepatnya curhat tentang osce. Mulai dari kebagian jadwal osce yang diundur karena beberapa yang saya anggap banyak hal, hingga merasa diri ini bodoh karena ceroboh. Seperti postingan satu semester yang lalu tentang osce , osce itu suatu ujian yang cuma 2 sks tapi belajarnya aduh-aduhan. Tapi pasti worth it, karena ini tentang skill klinis seorang dokter. Hadi lebih suka menyebutnya dokter-dokteran. Oleh karenanya, wajib dapet A tanpa minus, karena memang kenyataannya ga ada A(-). Jadi ceritanya, saya dan 68 orang kurang beruntung lainnya, yang kebagian jadwal ujian hari Kamis dipulangkan setelah menunggu 3 jam dan datang pagi-pagi kehujanan  (penuh penekanan) karena alasan yang tidak bisa saya sebu...