bismillah.
"Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana." [Q.S Ibrahim:4]
Diperhatikan, siklus posting blognya seminggu sekali ya. Cuma sekarang rada ngaret-ngaret. #mulaimalasngapangapain
Iya, jadi, sekarang saya mau ngomong-ngomong tentang bahasa. Tentang bahasa, saya jadi ingat waktu SD. Saya dikasih pengertian bahasa dalam setengah halaman buku bermerek logo bola dunia. itu dulu hafal cangkem, buat ujian. Sekarang? hmm.. apalagi udah ga ada kuliah bahasa indonesia, mana kepikiran buat mengulang pengertian bahasa.
Tentang bahasa lagi nih.. kuliah di sini minimal ada 3 bahasa yang harus dikuasai.
Pertama jelas bahasa Indonesia. Bahasa persatuan ummat nusantara. Bahasa Indonesia itu ya ini, bahasa yang saya pakai. Dari sinilah tiba-tiba muncul bahasa alay, bahasa gaul mungkin, atau sekian pergeseran eyd. Ejaan yang disempurnain.
Kedua, bahasa Inggris. Kenapa? Karena textbook yang digunakan yang valid ya yang berbahasa inggris. Yang terjemahan, itu harus lihat-lihat lagi tim penerjemahnya siapa. Kalau terjemahan textbook kedokteran yang bagus itu ECG. Cape? iyalah. Harus nerjemahin, terus memahami. Jadi cape dua kali gitu. Cuma, kalau pake yang terjemahan, beuh, makin ga ngerti. Jadi lebih enak pake yang bahasa inggris. Ya sedikit demi sedikit lah. Sampai-sampai suka lupa sama terjemahan kata-kata yang sederhana, dan malah diindonesiain gitu. Selain masalah textbook, inggris penting dipelajari karena sebagian lecture pake bahasa inggris. Semua slide presentasi pake bahasa inggris. Karena ada mahasiswa malaysia kan. Jadi ya begini. Ditambah lagi salah satu syarat naik tingkat itu TOEFL harus diatas 550. Ini nih yang bikin rada nyesek buat saya pribadi. Karena, selama sma 500 aja ga nyampe :'(. ga lucu ga naik tingkat cuma karena masalah toefl. Tapi ya dengan begini, kalau mau keluar negeri ga usah mikirn toefl lagi. Ambil hikmah aja.
Dan bahasa yang ketiga nih, yang kayanya lebih penting daripada bahasa inggris menurut saya. Bahasa Sunda. Kenapa? Secara tinggal di Bandung. Ko-as di RSHS. Mau bina desa atau acara lainnya dengan masyarakat. Masyarakat mana? Ya Jatinangor, yang notabene orang Sunda. Ini nih, yang bikin saya mersa unggul. hahaha. Karena banyak yang dari luar Jabar. pasti butuh effort lagi buat belajar bahasa sunda. Apalagi yang dari malaysia. Walau sebenarnya ga jago-jago amat, ga halus-halus amat. Seengganya kalau nanti berhadapan dengan pasien yang kebanyakan orang sunda, saya mengerti apa yang dikatakan. Ga mungkin maksa masyarakat buat pakai bahasa Indonesia. Apalagi ada beberapa masyarakat yang Sundanya kentel dan ga biasa pakai bahasa Indonesia. Makanya, giliran terjun ke desa, manusia-manusia yang dibesarkan dengan bahasa sunda yang tampil ke depan.
And so?
Bahasa Kaum. Hanya sedikit share tentang yang saya paham tentangnya.
Rasul diutus dengan bahasa kaumnya, biar dimengerti. Biar sampai maksud dakwahnya. Masalah hati cuma Allah yang bisa. Dan bahasa kaum itu tidak mudah. Tidak hanya sekedar bahasa Arab saat itu, atau belajar bahasa Inggris, atau bahasa sunda dan indonesia sekalipun.
Sekarang dalam kisah hidup saya, saya lagi aktif. Diantara duanya, di hima dan di asy-syifaa. Dengan lingkungan yang sedikit berbeda, perlakuan dari masing-masing kadiv atau kadeptnya berbeda pula. Saat itu, saya adalah 'objek' mereka. Bagaimana saya nyaman di lingkungan tersebut, bagi saya salah satunya dengan perlakuan mereka terhadap saya. Perlakuan sikap. Penilaian. Apapun itu, kondisi saya adalah seperti ini. cenderung diam, terlihat tidak memperhatikan, lebih memilih untuk menyimak, tidak suka ditatap eye on eye, terlihat serius, dan tidak melarang orang bercanda saat itu kok. Ketika saya objek mereka, saya pikir mereka yang sebagai subjek yang menyesuaikan nya dengan saya. Menyesuaikan dengan 'bahasa kaumnya'.
Mau berdakwah pada orang yang lebih condong ke perasaan, ya ga bisa memperlakukannya seperti memperlakukan orang yang lebih condong ke logika. Kalau kita orang yang 'logika'? Kita yang menyesuaikan dengannya, coba menjadi orang yang 'perasaan'.
Ya, saya ga bisa kasih contoh banyak. Bahasa kaum ini penting. Belajar 'bahasa kaum' saya rasa lebih penting. Bagaimana memahami orang, menyesuaikannya, agar nilai-nilai yang mau kita tanemin itu sampai dan bener-bener sampai. Dan inilah salah satu yang saya lemah padanya. Belajar bahasa kaum itu sulit. Kalau pun bisa belajar, masalah selanjutnya, mau ga menyesuaikan dengan bahasa kaum itu. Suka ada pertengkaran batin kalau udah ngomongin bahasa kaum. Kadang kalau bahasa kaum itu bukan kita banget, suka berat.
Kayanya ga semua maksud tentang bahasa kaum yang ingin diceritakan sampai di tulisan ini. Silakan diambil saja yang manfaat. Saya sendiri masih ga paham atau kadang susah untuk belajar bahasa kaum. Tapi, apa salahnya toh belajar bahasa kaum, agar dakwah kita sampai? Insya Allah.
Wallahua'lam.
Komentar
Posting Komentar