Sebelumnya, tulisan ini tidak disarankan untuk dibaca kalau punya kepentingan lain. Lebih baik kerjain yang lebih manfaat dulu, karena membacanya bakal banyak makan waktu, kecuali kamu baca KEM :D
Bismillah. Sepulang kuliah gatau kenapa terdorong untuk menulis ini.
Serpihan-serpihan kecil yang kalau dikumpulkan jadi banyak :D
Belajar RPS tuh yaa... pasti bakal ketemu yang 'beginian'. 'Kasusnya' udah ada. Tapi, bersikap biasa. Itu hal yang biasa. Karena dokter harus menjelaskannya. Menjelaskan loh. Artinya membuatnya jelas. Tapi, karena menganggapnya biasa, ada yang terlupakan.
Menganggapnya biasa, kita lupa akan batasan. Menganggapnya biasa, kita lupa. Menganggapnya sesuatu yang lumrah terjadi, rutinitas sehari-hari, kadang membuat kita lupa bersyukur. Ga hanya belajar RPS aja, belajar sistem yang lain pun, karena menganggapnya fisiologis, ya, kadang jadi lupa bersyukur.
Tadi, mini lecture, belajar tentang homeostatis. Awalnya nonton video tentang darah yang unyu banget. Terus, pas dr.Nadjwa presentasi, ya Allah... ngantuk banget. Alhasil saya tertidur. Gatau berapa lama, saya dibangunkan sama Tika. Kaget, dikirain dipanggil atau ketahuan ketiduran, ternyata giliran saya absen. Jadilah cenghar. Dan setelah bangun itu, bukannya lanjut merhatiin, saya berfikir.
Berfikir, kenapa semenjak kuliah, jadi sering banget tidur di kelas. Padahal, dari sd sampai sma, saya merasa (yakin) saya tidak selalu ngantuk selama pelajaran, selama guru menerangkan. Apakah saya kurang antusias mengikuti kuliah? Apakah karena rebutan oksigen dengan 268 orang lainnya? Apakah karena suara sang dokter? Atau slide yang kurang menarik? Bisa jadi loh itu semua risk factor-nya. Tapi, saya berkesimpulan, ngantuk memang karena kurang suplai oksigen. And so?
Saya membandingkannya dengan kehidupan sma dahulu. Sekarang, karena di bale, kuliah jam tujuh pun berangkatnya nyantai. 15 menit sebelum masuk juga tetep on time. 5 menit sebelum masuk juga, tinggal naik ojek. Tapi, waktu sma, untuk mencapai 6.45 di sekolah, saya harus berangkat jam setengah enam dari rumah. Kebayang kan beda rajinnya dulu ama sekarang? Oksigen pagi hari lebih banyak diserap waktu sma. Hal ini lah yang kemudian saya fix menjawab bahwa saya tidak akan nge-kos setelah keluar asrama ketika orang sibuk mencari tempat kos untuk tingkat dua nanti. Ga cape had? Cape itu wajar. Tapi rumah jauh itu bikin rajin buat saya. Lagian, walaupun beda kota, rumah-unpad lebih dekat daripada rumah-20. Berangkat pagi itu bikin rajin, seengganya buat saya pribadi. Cape? Ya disyukuri. Namanya juga pilihan.
Nah loh, dulu waktu awal sma ngeluh karena rumah jauh. Sekarang? difasilitasi deket kampus malah ingin PP rumah-nangor. Hal kecil seperti itulah yang kadang terlupakan. Rumah jauh pun harus bersyukur. Tapi jangan sampai lupa bersyukur juga karena tinggal di bale.
Belum selesai cerita tentang hal kecil yang terlupakan.
Setelah selesai beliau presentasi, saya pun selesai memikirkan hal tadi (tentang kenapa saya sering banget tidur di kelas). Dilanjutkan dengan menonton video tentang RPS. Berkisah tentang Philipa dan Jeff, pasangan yang baru memutuskan untuk punya anak di usia 30 tahun mereka. Setelah pertama mereka menikah, mereka berfikir, punya anak itu gampang, hanya masalah waktu saja. Tapi, setelah memutuskan untuk punya anak, mereka bilang itu susah. Dan di film-nya, akhirnya si Philipa hamil. Sumpah, itu film antara ilmu, kocak, b****, dan drama.
Ada kalimat yang saya suka di film itu:
Menjadi hamil itu perjuangan, tetap hamil itu perjuangan. Melahirkan itu perjuangan, dan lahir pun adalah perjuangan.
Nah, diceritain kan kisahnya si Philipa dari awal hamil sampai melahirkan. Ga hanya dari sudut pandang Philipa, diceritain juga sudut pandang si janinya. Alhasil, saya berfikir, hal-hal yang fisiologis seperti perkembangan janin dalam perutnya si Philipa, perubahan fisik pada Philipa sendiri saat hamil, sampai melahirkan. Itu seperti hal yang biasa terjadi. Tapi suka lupa untuk disyukuri. Kita yang lahir normal, punya ibu yang kuat, kita lupa untuk mensyukurinya. 'Lupa' untuk berbuat baik sama orang tua.
Hal kecil pun belum selesai.
Usai kuliah PHOP, bos minta waktu untuk ngomongin seputar masalah draft sooca RPS yang belum keluar. Panjang ceritanya. Hanya saja, dari masalah tersebut, saya diingitkan untuk hal kecil lagi: menghargai. Menghargai teman-teman yang nanti jadi sejawat. Hal kecil lainnya adalah masalah tanggung jawab.
Dan hal-hal kecil itu, tidak bisa disepelekan.
Hal-hal kecil yang tidak kita sadari,
Hal-hal fisiologis dalam tubuh,
Hal-hal kecil yang terlihat sepele,
itu patut disyukuri. Mau nunggu sampai jadi masalah?
Bagaimana jika dalam posisi oposisi hal-hal diatas? Berada dalam kondisi yang tidak kita inginkan? Memiliki hal patologis dalam tubuh? Menjadi objek yang tidak dihargai? Cuma satu. Sabar. Sabar itu apa? Bertahan dalam kondisi tersebut dengan hal yang kita punya. Artinya, besyukur pula bukan? Bersyukur dengan hal tersebut adalah sabar. Bukankah dalam Al-Quran kata sabar disandangkan dengan kata syukur?
Intinya, little things yang saya jabarkan pada akhirnya hanya masalah sabar dan syukur. Hanya? Terlihat kecil kan?
Hal kecil ini lah yang menjawab pertanyaan yang pernah terbersit dalam pikiran: Mau ngulang snmptn?
Saya akhirnya menjawab tidak. Saya berkesimpulan, mengulang lagi adalah pilihan tidak bijak untuk saya. Ya iya. Ini loh Had yang dulu kamu rengek-rengekin. Yang dulu kamu belajar dari pagi sampai besok paginya lagi. Yang selalu kamu sebut dalam do'a. Harusnya bersyukur. Mau ngulang karena merasa gak sanggup? Merasa salah tempat? Terus, gimana tanggung jawab kamu terhadap kegiatan kemahasiswaan yang udah kamu ikuti? Kamu harus tahu perjuangan orang lain yang memeperebutkan kursi yang kamu duduki sekarang.
Jawabannya hanya syukur dan sabar. Tetap bertahan dengan apa yang saya punya. Dan rasanya, saya baru ngeh sama kalimat Be Your Self.
Rasanya seperti ketampar. Atau bahkan ditampar sama keadaan. Seolah keadaan bilang: Mana ma'iyatullah-mu? Dimana syukurmu? Dimana sabarmu? Dimana Istiqomahmu? Dimana tanggungjawabmu? Dimana teguhmu? Dimana takutmu sama Allah? Dimana kamu berdiri? Dimana? Katanya innallahama'ana?
Saya hanya tidak ingin melakukan hal-hal yang sia-sia. Sia-sia dalam arti, melakukan hal-hal yang tidak akan dan tidak bisa menyelamatkan diri saya nanti. Berapa lama saya belajar, berapa banyak organisasi yang saya ikuti, berapa banyak teman yang saya punya, belum tentu akan menyelamatkan saya nanti. Poinnya adalah, lurusin niat lagi. Dan rasanya seperti baru ngeh sama kalimat Luruskan niat dan motivasi yang sering dibilang sama pak Eka. (hal kecil lagi tuh).
Wallahua'lam.
Komentar
Posting Komentar