Langsung ke konten utama

Sembilan Minggu Kelima: Ibuku Grande Multipara

Sangat (tidak) terasa, 9 minggu di stase obgyn udah lewat. Padahal rencananya udah mau nulis ini ketika akhir obgyn, tapi saya terlalu terlena dengan kegabutan minggu terakhir, dan nulis ini pun disela-sela kehektikan kegelehan stase kulit kelamin.

Overall, saya suka banget stase obgyn. Padahal awalnya, saya takut banget stase ini. Tapi ternyata, stase ini justru menurut saya paling jelas ilmunya, terlalu mikir kaya ipd.. engga, terlalu banyak tindakan kaya bedah.. engga. Dan pasiennya perempuan. Justru setelah lewat stase obgyn.. saya ingin banget jadi SpOG, -walau masih takut-takut- beneran. Ya ga banyak dapet tindakan juga sih.. bahkan akhir-akhir nya saya udah males banget buat jaga. Buat bantu partus. Bahkan buat lihat aja udah engga mau. 

Di obgyn, saya inget ibu saya yang seorang grande multipara.

Grande Multipara adalah sebutan untuk ibu berstatus obstetri P4Ax , atau sederhananya yang sudah pernah melahirkan 4x. Ketika seorang ibu grande multipara hamil, banyak risiko yang menyertai kehamilan dan persalinannya. Seperti perdarahan antepartum, perdarahan postpartum, kelainan letak, dll. apalagi ibu grande multipara  merupakan ibu berisiko tinggi karena biasanya ibu memiliki anak dengan jeda kurang dari 2 tahun (terlalu cepat), usia sudah lebih dari 35 tahun (terlalu tua) dan terlalu banyak anak. Karena risiko yang tinggi sementara indonesia ikut serta dalam mdgs dan sdgs, bervisi menurunkan angka kematian ibu dan anak, untuk niatan itulah program keluarga berencana menjadi penting, disamping mengendalikan pertambahan kuantitas. Saya sih setuju, ketika kuantitas tidak berbanding lurus dengan kualitas maka harus berbuat sesuatu.

Saya anak ke 2 dari 8 bersaudara, which is ibu saya adalah seorang grande multipara di era kampanye 2 anak lebih baik, laki perempuan sama saja. Apakah penyulit penyulit itu ada?

Hamdalah, saya dan saudara saudara saya lahir secara spontan dan aterm di bidan tanpa kekurangan berat badan lahir maupun hal lain dan ibu tanpa penyulit apapun termasuk luka jahit di jalan lahir. Secara kondisi fisik, ibu saya memang dalam keadaan sehat dan baik ketika hamil.

Ibu saya bukan nya tidak memahami tentang hal hal diatas dan  tidak tahu tentang program kb, pun bukan penganut banyak anak, tapi ibu saya terlalu berani mengambil risiko menjadi seorang ibu 8 anak. Bukan hanya risiko hamil dan lahir, tapi juga setelahnya berada di dunia.

Kata siapa banyak anak jadi sulit ekonomi? Rasul bilang banyak anak banyak rezeki. Bukan lantas anak menjadi sumber pekerjaan atau dijual. Tapi karena mereka paham ketika Allah memberi nyawa pada jasad, Allah lah yang memberikan nyawa dan jasad itu hidup dan kehidupan, pun masalah rezeki. Orangtua hanya perlu berikhtiyar. Yang kemudian menjadikan mereka adalah seorang yang pekerja keras. 

Bukan hanya masalah materi, tapi juga masalah pengasuhan dan pendidikan. Kata siapa banyak anak perhatian tidak terbagi secara adil dan merata? Kata siapa banyak anak menjadikan mereka jadi seorang yang tidak terdidik? Itu hanya untuk para grande multipara yang tidak siap dan tidak paham risiko. Yang lari dari keberanian mengambil risiko. 

Saya dan kakak serta adik adik sangat senang bertengkar. Tapi tak menjadikan kami seorang yang tidak berpendidikan. Saya mendapat perhatian yang cukup dan sesuai dengan usia. Pernah sesekali salah satu dari kami merasa tidak mendapatkan perhatian, tapi itu ketika kami masih bocah. Seiring bertambah dewasa, kami masing masing tahu peran kami sebagai kakak dan adik bagi yang lain.

Apa yang membuat ibu berani menjadi grande multipara?
Kemuliaan menjadi seorang ibu dari anak anak yang sholeh. Solusi dari ketidaksejalanan kualitas dan kuantitas adalah menyelaraskan kuantitas dengan kualitas. Kenapa tidak?
Salah satu dari amal yang tidak terbatas dimensi alam adalah doa anak sholeh untuk orang tuanya. Banyak anak sholeh, kenapa tidak?
Kami menjadi investasi akhirat terbesar untuk otangtua kami, dan lebih jauh untuk bangsa dan agama. Kenapa tidak?
Asal kami semua mau, menjadi keluarga yang mendukung selamat di dunia dan akhirat,

Tidak ada yang salah menjadi grande multipara, dengan syarat dan ketentuan berlaku. 

Bahkan, jika ibuku dan ibu kita bukan grande multipara pun kita tetep harus jadi investasi terbaik orangtua kita, terbaik dunia apalagi akhirat.

Daan.. yang memberikan kita hidup kehidupan bukan orangtua kita.. pun hidup rupanya bukan keinginaan kita
Bahkan ibu saya ga pernah berpikiran punya 8 orang anak yang salah satunya wujudnya seperti saya ini.

Kalau lihat ibu partus, duh kadang kalau lagi melow suka sedih, ngebayangin nahan sakitnya, dan betapa bahagia lihat anak yang baru lahir. Ya walaupun kadang kesel juga kalau lagi cape. Banyak pasien. Cape karena koas ga boleh tidur. Takut digerebeg residen, konsulen, dan gubernur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalur Belakang

cuma mau cerita, ga bermaksud dicontoh, kecuali Anda menemukan hal yang patut untuk dicontoh Tadi pagi, aku jadi anak nakal FK. Kenakalan mahasiswa untuk pertama kalinya (rasanya begitu). Kalau cari pembenaran, banyak. Ini bukan salahku. Aku sudah punya rencana. Informasinya telat. Yang lain juga begitu. Tadinya ga akan kaya gini bu, cuman... bla bla bla . Mungkin aku bilang begitu, kalau nanti ibu asrama tanya. Aku sudah punya rencana, kalau Sabtu pagi pagi seperti aku berangkat sekolah, aku akan pulang ke Bandung. Aku punya rencana dan janji yang ingin ditunaikan, sekaligus menghilangkan homesick bulan september. Tapi, ancaman ini datang malam sebelumnya. Sekitar 10 jam sebelum aku akan keluar dari asrama. Jrengjreng... jarkom telat. Kalau seharusnya, hari ini, 2012 fk, wajib ikut lustrum XI, peringatan dies natalis fk ke 55. Dengan dresscode batik. Rencana pulang bukan aku saja yang punya. Cobalah, kau tanya anak-anak bandung, atau sekitarnya, bahwa pulang ada di age...

SOOCA perdana :')

Hai! Hari ini hari yang penting bagi kami. Hari yang mungkin merupakan klimaks uts. Ada ujian apa? ada sooca ! Ye!!! Jadi ujiannya sih sebenernya biasa aja. Sebenernya. Tapi, uts disini tuh berasa berattt... banget. Masa galau Cuma uts doang? Ya mungkin uts perdana kali ya. Tapi sama deg-degannya dengan mau ngadepin snmptn. Pusingnya juga. Capenya juga. Setelah melewati tahap satu dengan 200 soal bahasa inggris atau yang kemudian disebut dengan MDE atau multidisplinary examination part satu tentang biokimia, lalu tahap dua, ujian CRP atau clinical research program yang ujiannya menurutku out of the box, hari ini, tahap yang sangat ditunggu-tunggu untuk dilewati dengan penuh kesungguhan, harapan, dan harus prognosis yang ad bonam , yang katanya sih, kamu harus bilang ‘wow’, yaitu sooca yang sesuatu banget. Sooca itu ujian lisan. Pertama kita dateng pagi-pagi. Terus diisolasi dalam ruangan yang kamu Cuma bisa melihat, bernafas, dan pada akhirnya belajar! Atau ...

another exam: ujian dalam ujian dalam ujian

Sedang tidak produktif menulis. Alasan yang terpikirikan hanya satu: kurang input alias baca. Baca sih, baca soal, outputnya berupa bulatan hitam di LJK. Baca draft osce, outputnya saat osce tadi dan outcomenya berupa nilai. Yeay! :D Oleh karenanya, saya mau nulis yang lebih tepatnya curhat tentang osce. Mulai dari kebagian jadwal osce yang diundur karena beberapa yang saya anggap banyak hal, hingga merasa diri ini bodoh karena ceroboh. Seperti postingan satu semester yang lalu tentang osce , osce itu suatu ujian yang cuma 2 sks tapi belajarnya aduh-aduhan. Tapi pasti worth it, karena ini tentang skill klinis seorang dokter. Hadi lebih suka menyebutnya dokter-dokteran. Oleh karenanya, wajib dapet A tanpa minus, karena memang kenyataannya ga ada A(-). Jadi ceritanya, saya dan 68 orang kurang beruntung lainnya, yang kebagian jadwal ujian hari Kamis dipulangkan setelah menunggu 3 jam dan datang pagi-pagi kehujanan  (penuh penekanan) karena alasan yang tidak bisa saya sebu...