Langsung ke konten utama

Semesta #1

Kau tahu lah, setiap hari ku balapan dengan matahari. Setiap itu pula, aku curang, mendahului start balapan kami. Namun pada akhirnya, aku kalah, matahari sampai duluan di finishnya, kembali ke tempat semula, yang artinya perpindahan sama dengan nol, sementara aku, akibat curang jadi kalah. Lambat saat berbalik.

Dan lalu, aku ingat sesuatu. Teori kami, adalah teori yang tak beralasan, itulah alasannya. Kau lihat langit, lima menit setiap hari. Hanya untuk memberi waktu pada mata agar olah raga setelah lelah melihat baginya, kontinu. Bersenandunglah lagu itu, kagayaku hoshizora no shita, nani o mitsumete irun darou?  Kau pasti tahu lah lagu itu, lalu aku menjawab, atap tanpa langit. Paling kokoh. Langit yang biru, tasku yang biru, jaket DKM yang biru, pita yang biru, dan asada ryutaro yang biru. Walau sebenarnya aku ingin sekali melihat bintang, tapi tak ada di siang hari.

Beromong-omong teori, aku ingat teori satu lagi, ialah teori jeruk manis. Sungguh tidak penting, tapi percaya saja lah, walau kau tahu ketika kau bertanya aku balik bertanya lagi, sampai kau cape dan aku bilang aku tak punya alasan.

Itu sebuah de javu. Aku ingin berbaring melihat langit, tapi punggung tak mau. Sejak kapan dia tak mau menuruti perintahku? Sejak aku menjadi indikator cuaca, entah dari kapan. Maka leherku berotasi, aku melihat pepohonan yang manis. Kau tahu lah, ini itu maksudnya bukan denotasi. Itu sinestesia, pertukaran indera.Tak mungkin manis dilihat. Lalu aku menghilangkan kota dalam sekejap, tentu kau harus percaya, karena setiap orang bisa melakukannya.

Maka, saat kota hilang, aku mendirikan sebuah bangunan yang disebut mimpi. Kau bisa lakukan yang kau mau. Begitu pun aku. Berfikir yang kau mau saat ini adalah lebih tepat daripada menggambar. Tapi, saat menggambar, aku akan berfikir lebih keras tentangku dalam mimpi ini. Namun, setelah kota kembali, itu tergantung padamu, tentang mimpimu dan mimpiku yang kembali atau tidak.

Maka, saat bersama kawan ialah yang bagus untuk berbagi. Senang ada orang yang mau mendengarkan. Tentu, mendengarkan juga baik. Baik bagimu, karena kau didengar. Saat itu ditegur, mungkin hawanya berbeda. Kesel, tapi kau tahu itu akan indah.  Dan kau akan tahu lebih banyak hal tentang mereka, karena tanpa ditanya, akan bercerita kisahnya yang tak ada ujung. Mengapa? Karena masih berlanjut sampai saat ini, masih cerita sama aku.

Dan aku teringat dengan yang lain, aku ingin pergi ke mereka. Tapi aku ingat, kata fokus belajar itu berat. Karena bukan sekedar fokus, ini semesta fokus.

Dan mulailah kertas kertas dan pensil yang menemani, bersama otak yang berimajinasi tinggi ini. Kau tahu malam hari banyak gelombang elektromagnetik, mengapa? Saat ini, Indonesia sedang tidak mengahadap reaksi fisi, yang ada tetap langit warna gelap menemani. Padahal, aku merindukan langit indah. Itu ketika sekitar 4 tahun yang lalu, langit sore berwarna oren, merah muda, peach, ungu, bersatu. Atau langit 1 bulan yang lalu, ketika kau menghadap kiri, warnanya peach, ke kanan tosca, subhanallah.

Setelah puas tanpa obrolan, kau tahu itu tidak baik mendendam lebih dari 3 hari. Yang kami buat hanyalah perdebatan tanpa makna sehingga kalau dibiarkan akan tanpa ujung. Maka mulailah dari obrolan ringan, hingga kami sadar, memang beginilah adanya. Kalau berubah karena orang , gak akan ada kata benar, tapi kalau karena Allah, walau orang bilang engga, yang penting Allah bilang iya,

Kalau Allah suka aku engga
Kalau aku suka Allah engga
Allahu ‘ala kulli say in ‘alim, nafsii

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalur Belakang

cuma mau cerita, ga bermaksud dicontoh, kecuali Anda menemukan hal yang patut untuk dicontoh Tadi pagi, aku jadi anak nakal FK. Kenakalan mahasiswa untuk pertama kalinya (rasanya begitu). Kalau cari pembenaran, banyak. Ini bukan salahku. Aku sudah punya rencana. Informasinya telat. Yang lain juga begitu. Tadinya ga akan kaya gini bu, cuman... bla bla bla . Mungkin aku bilang begitu, kalau nanti ibu asrama tanya. Aku sudah punya rencana, kalau Sabtu pagi pagi seperti aku berangkat sekolah, aku akan pulang ke Bandung. Aku punya rencana dan janji yang ingin ditunaikan, sekaligus menghilangkan homesick bulan september. Tapi, ancaman ini datang malam sebelumnya. Sekitar 10 jam sebelum aku akan keluar dari asrama. Jrengjreng... jarkom telat. Kalau seharusnya, hari ini, 2012 fk, wajib ikut lustrum XI, peringatan dies natalis fk ke 55. Dengan dresscode batik. Rencana pulang bukan aku saja yang punya. Cobalah, kau tanya anak-anak bandung, atau sekitarnya, bahwa pulang ada di age...

Akhir Siklus #2

You did it Hadi! Alhamdulillah alaa kulli haal Malu malu banget. Kalau kata Thufail bin Adi, pemberian Allah itu sempurna tapi ibadah kita (saya) banyak cacatnya. Well, kemarin saya baru osce. Dan hari ini such unproductive day. Jadi ceritanya, hari Minggu sebelum ujian, ibu bertanya sampai kapan aku ujian. Terus saya jawab, minggu depan. Lalu meminta agar hari Rabu bisa ambilkan rapot untuk salah 1 adik saya, karena Ibu mau ambilkan rapot untuk 2 adik saya yang lain. Ya begitulah menjadi kakak dengan adik yang banyak. Saya bilang, hari Rabu belum tau bisa atau tidak, karena Rabu adalah jadwal remedial ujian yang hari Senin dan Selasa. Saya kebagian ujian osce hari Senin. Kalau misalkan ada yang harus diremedial, maka hari Rabu saya tidak bisa. Parahnya, ujian hari senin, 14 kasus skills nya baru saya hafal dari hari Minggu nya jam 3 sore. Bagus banget, Had. Pakai kekuatan kepepet. Mana buta banget yang eye exam sama mse gara2 pas skill lab gak memperhatikan dengan baik. Par...

H-7

Banyak hal yang tidak bisa ditangkap oleh panca indra manusia yang serba terbatas diciptakan. Hal-hal yang diluar keterbatasannya akan sulit diterima oleh logika berfikirnya. Kita mengenal istilah delusi, halusinasi, sampai gila berkenaan dengan hal ini. Apa yang membuat manusia bisa melihat, mendengar, merasa, diluar batasnya adalah kepercayaan. Islam mengajarkan iman kepada hal-hal yang ghaib, hal-hal yang tidak bisa disentuh oleh ruang manusia. Allah, malaikat, surga dan neraka, sampai bisyarah rasul.  Gelar ash-shidiq yang disematkan pada nama Abu Bakar ra adalah karena "kemampuan" ini. Isra Mi'raj bukanlah hal yang mampu dinalar oleh keterbatasan manusia. Maka wajar bila gelar Rasul dari Al-Amin berubah jadi Al-majnun. Kalau saya bilang saya tadi baru terbang ke langit ke tujuh, itu baru waham (perlu digaris bawahi juga kepercayaanny). Oleh karenanya, menerima Islam tidak hanya bisa dengan logika. Ia diterima pada mereka yang mau berfikir. Berfikir dan membu...